GLOBAL WARMING OF THE SOUL

Karena nyantai gak ada kerjaan, iseng-iseng oprek2 milist eh nemu email yang bagus dan menginspirasi banget dari salah satu temen di milist. Judul lengka emailnya Diskusi Buku “Whatever your Problem, Smile” karya Alwi Alatas, MA. Berikut Selengkapnya :

Global Warming of the Soul

Ketika seorang mengeluh dan memilih respons yang negatif atas persoalan yang dihadapinya sehari-hari, maka tanpa disadari ia telah melubangi atmosfer jiwanya. Keluhan-keluhan itu membuat langit jiwanya menjadi terbuka dan kehilangan pertahanan yang memadai. Jiwanya menjadi lebih rentan terhadap berbagai kesulitan dan mudharat. Keluhan dan respons negatif merusak lapisan ozon di langit jiwa kita.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan sinar matahari (kesulitan dan problem hidup) yang menerpa bumi (kehidupan) kita. Tapi karena keluh kesah dan sikap negatif telah merusak ozon di langit jiwa kita, maka sinar yang bermanfaat itu berubah menjadi panas yang menyakitkan, berputar dan berakumulasi di atmosfer jiwa kita, dan menimbulkan ketidakseimbangan serta kerusakan.

Maka dari itu tutuplah potensi kerusakan di langit jiwa kita itu dengan sifat sabar, maka sinar mentari akan kembali menjadi penghangat dan panas yang bermanfaat bagi kita. Karena sifat sabar adalah atmosfer yang melindungi dan menetralisir setiap bahaya yang dibawa oleh pancaran panas mentari dan menyaringnya menjadi manfaat yang besar bagi kehidupan kita.

Problem dan kesulitan tidaklah seburuk yang dibayangkan oleh sebagian orang. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluh, merasa sedih secara berlebihan, apalagi sampai berputus asa. Karena selain semua itu tidak akan menyelesaikan persoalan yang kita hadapi, ia juga akan membawa pada masalah yang lebih serius lagi. Jika kita mendapat musibah dan kita berputus asa dan tidak mau bersabar, maka kita mengalami tiga kerugian sekaligus. Kerugian pertama adalah musibah itu sendiri. Kerugian kedua hilangnya pahala karena kita tidak mau bersabar. Kerugian ketiga adalah dampak buruk dari rasa putus asa yang akan menyeret kita pada masalah yang lebih besar lagi. Sebaliknya jika kita sabar, maka masalah kita berhenti sampai di situ dan kita akan mendapatkan ganjaran atas kesabaran kita.

Perjalanan Hidup Manusia

Kini kita akan melihat contoh , yaitu kisah David Pelzer. Sebagaimana yang ia tuturkan sendiri melalui trilogi bukunya, A Child Called It, The Lost Boy, dan A Man Named Dave, Pelzer mengisahkan perjalanan awal hidupnya yang amat tragis dan kehidupannya setelah itu. Ia merupakan korban child abuse kedua terburuk di negara bagiannya di Amerika Serikat. Sejak kecil ia telah menjadi sasaran penganiayaan oleh ibunya sendiri. Setiap yang membaca kisahnya akan merasa sulit untuk membayangkan betapa seorang ibu bisa bersikap begitu jahat pada anak kandungnya sendiri.

Pelzer kecil tidak diperlakukan sebagai seorang manusia oleh ibunya sendiri. Ia dipanggil dengan sebutan sebuah kata ganti bahasa Inggris untuk benda atau hewan. Sehari-hari ia disiksa, tidak diberi makan (kadang diberi makanan sisa dari tempat sampah). Ia pernah dikurung dalam kamar mandi yang diisi bahan kimiawi yang nyaris membuatnya mati keracunan. Wajahnya pernah dibenamkan dalam popok adik bayinya yang penuh kotoran sehingga kotoran itu masuk tertelan ke dalam mulut dan hidungnya. Pernah juga ia ditusuk pisau dan dibiarkan luka dan kesakitan selama berhari-hari tanpa perawatan.  Pelzer kecil mengalami semua siksaan itu tanpa bisa memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Ia tidak memahami mengapa ayahnya tidak pernah membelanya dan selalu kalah setiap kali bertengkar dengan ibunya. Ia juga tidak mengerti mengapa ia diperlakukan secara berbeda dengan saudara-saudaranya dan mengapa dirinya saja yang selalu menjadi korban tabiat buruk ibunya. Sebagai anak yang masih kecil, ia sama sekali tidak mengerti. Yang ia tahu dan coba lakukan hanyalah berusaha untuk bertahan, berusaha untuk tetap survive.

Ia tumbuh menjadi seorang anak yang aneh. Pergi ke sekolah tapi tidak mampu bergaul dengan teman-temannya. Pakaiannya lusuh dan tidak terawat. Dan ia juga terbiasa mencuri makanan murid-murid lain (demi memenuhi rasa laparnya) yang membuat ia semakin dibenci dan dijauhi. Pelzer menjalani semua itu sampai awal usia belasan ketika salah seorang gurunya melihat badannya yang penuh bekas luka. Kasusnya dilaporkan ke polisi. Petugas sosial, melalui keputusan pengadilan, kemudian memisahkan Pelzer dari orang tuanya.

Apakah persoalannya sudah selesai? Apakah seorang anak yang bertahun-tahun jadi korban child abuse akan berubah menjadi baik dan berhasil hanya dengan dipisahkan dari orang tuanya? Tentu saja tidak. Pelzer melalui masa-masa yang berat. Perilakunya masih aneh dan ganjil dan beberapa orang tua angkatnya terpaksa menyerah dan mengembalikannya ke lembaga sosial untuk dicarikan orang tua asuh baru. Tapi pada akhirnya ia dapat melalui semua itu.

Pelzer kemudian bergabung dengan Angkatan Udara AS. Belakangan ia juga menjadi pembicara seminar dan seorang motivator, menulis beberapa buah buku, dan memperoleh beberapa penghargaan atas prestasinya. Keadaannya berubah sepenuhnya. Anak yang mengalami neraka dunia di masa kecilnya ternyata mampu meraih kesuksesan di masa dewasanya.

Nasib manusia memang sulit untuk ditebak. Karenanya kita tidak perlu merasa iri dengan keberuntungan orang lain dan tidak perlu mencemooh nasib buruk orang lain. Jalani saja kehidupan kita sendiri sesuai dengan tuntunan Islam. Kalau nasib kita kurang beruntung maka bersabar saja dan jangan kehilangan harapan. Dan kalau hidup kita penuh nikmat dan bahagia, maka banyak-banyaklah bersyukur serta tetap waspada akan kemungkinan datangnya musibah setelah itu. Insya Allah semuanya akan menjadi baik bagi kita.

Banyak manusia yang tidak menyukai problem dan kesulitan hidup, sehingga saat mendapat problem ia mengeluh. Jika masalah yang dihadapinya terlalu besar, maka ada orang yang merasa putus asa dan memutuskan bunuh diri. Ia mengira dengan bunuh diri masalahnya akan selesai. Padahal keputusannya itu justru akan membuat masalahnya lebih besar lagi di kehidupan setelah mati.

Mengapa harus membenci kesulitan, sementara ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini? Sekiranya tidak ada rasa sakit, kesenangan tak akan dapat dipahami, kata Said Nursi. Ketika kita memahami apa sesungguhnya yang ada dibalik problem dan kesulitan hidup, maka kita tak akan lagi mengeluh, apalagi sampai berputus asa. Kita akan mengatasinya dengan penuh kesabaran. Kita akan menghadapinya dengan sebuah senyuman.

Referensi

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: